Gaya bahasa Orwell itu seperti pisau cukur yang dipoles rapi—tajam, ringkas, dan tak memberi ruang untuk retorika berlebih.
Aku suka mengulang-ulang kalimat-kalimatnya karena mereka terasa ekonomis tanpa terasa hambar. Dalam '1984' dan 'Animal Farm' dia memilih diksi yang sehari-hari tapi bermuatan berat; itu bukan kebetulan, melainkan strategi. Kata-kata yang sederhana membantu menonjolkan absurditas situasi politik yang ia kritik. Ketika ia memakai kalimat pendek, itu memberi efek pukulan: ide yang jelas, tidak bisa disamarkan oleh bahasawan indah.
Dari sisi teknik, Orwell sering memakai struktur paralel, pengulangan sloganik, dan kontras yang menancap di kepala—contohnya slogan-slogan yang mengerikan di '1984'. Kritik sastra biasanya memuji kejelasan moral itu, sekaligus mengingatkan bahwa ada momen di mana kesederhanaan bisa berubah jadi dogmatis. Bagi aku, keseimbangan itu membuat bacaan Orwell menantang sekaligus memuaskan: jelas dalam pesan, tapi tetap menuntut pikiran pembaca untuk menggali implikasinya.