EUFORIA
“Gue mau jawaban yang sangat jelas dari lo. Gue mau lo mengatakan yang sejelas-jelasnya.”
Terlihat bahwa Carissa menelan saliva. Mungkin juga dia sedikit terkejut karena mendengar pernyataanku barusan.
“Kenapa? Lo nggak bisa?”
Sejenak, mata Carissa terpejam, lalu kembali terbuka. Dia terlihat sangat yakin kali ini.
Senyumannya pun tersungging lebar, lalu berkata, “Saya mencintaimu, Adrian.”
Jantungku terasa seperti dientak benda yang keras, tetapi bukan rasa sakit yang dihasilkan, melainkan sebuah kebahagiaan.
Hot Chapters