Om-Om Pilihan Papa
ujarku pada Risa yang kini menganggukan kepala sok mengerti, aku tak tahu, dia memang benar-benar mengerti atau hanya sok iya saja.
"Kalau gue digituin, gue nyerah sih."
"Maksudnya?"
"Gue ... pasrah aja, ganteng dia."
"Gak waras lo kalau gitu." Aku sungguh tidak mengerti, kenapa di mata banyak orang, Om Bian itu terlihat menggoda, seksi dan laki-laki sekali. Berbeda jauh dengan pandanganku selama ini. Sungguhan, Om Bian adalah laki-laki yang meskipun hanya dia yang tersisa di dunia ini, aku tidak akan meliriknya, tidak akan jatuh cinta padanya dan tidak mau dinikahinya.