Luka Seorang Istri
tanyaku, dengan cepat Dilra mengusap wajahnya dengan kasar.
“Enggak apa-apa,” jawabnya yang masih terlihat gelagapan, mungkin tak menyangka kalau aku berada di sini.
“Kamu ingin ikut gabung?” Dilra malah diam dan menunduk.
“Mas kan lagi ngomong kenapa malah menunduk, kalau mau ikut, ya ikut saja.” Dari sini aku tahu, sisi lain dari istriku. Saat sendiri dia terlihat begitu rapuh, tapi saat kudekati dia bagai bunga mawar yang berduri. Nyatanya tak ada yang berubah darinya, hatinya tetap lembut, yang berbeda hanya dia yang terlalu membentengi diri dariku.