Kehidupan Kedua
Pun Nadisa harus sedikit mendongak untuk menatap Jevano tepat di kedua mata gelapnya.
"Asal kamu tahu, aku bukan bahan taruhan, Jevan. Aku yang memutuskan akan bermain dengan siapa. Bukan kamu, bukan Narendra, dan juga bukan dengan taruhan konyolmu." Nadisa berkata tajam. Ia terus bertukar pandang dengan Jevano. Seolah saling menunjukkan kuasa masing-masing.
"Kalau begitu, pilihlah aku untuk bermain denganmu. Aku lebih segalanya dari dia. Aku bahkan bisa membantumu untuk lebih mahir bermain basket, dibandingkan jika kamu bermain dengan gembel tidak berguna seperti dia."