Ada satu cerita yang bikin hati saya hangat setiap kali ingat—tentang Pak Budi, supir angkot di kampung saya, yang jadi ayah pengganti untuk Rudi, anak tetangganya yang yatim. Ibunya Rudi kerja serabutan, jadi Pak Budi yang nemenin Rudi belajar setiap malam sambil nunggu penumpang terakhir. Sekarang Rudi lulus cumlaude dari ITB, kerja di perusahaan tech ternama. Yang bikin greget? Rudi selalu bilang, 'Skill coding pertama saya itu belajar ngitung uang kembalian di angkot Pak Budi.' Mereka buktiin bahwa keluarga nggak selalu tentang darah, tapi tentang siapa yang mau bertahan di saat susah.
Pas wisuda Rudi, Pak Budi pake dasi compang-camping pemberian Rudi—dasinya kepalang kecil, tapi mukanya sumringah banget. Sampai sekarang tiap lebaran, Rudi pasti pulang kampung bawa oleh-oleh buat 'Bapak Angkot'-nya itu. Cerita mereka sering jadi bahan obrolan warung kopi, bukti bahwa kesuksesan bisa tumbuh dari tanah yang paling enggak diduga.