Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin
“Baik, Tuan.”
Arsenio langsung meraih jasnya, keluar dari ruang rapat tanpa menunggu lift—ia menuruni tangga darurat empat lantai, hampir melompat di setiap pijakan.
Begitu sampai di parkiran, ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan melesat keluar dengan kecepatan penuh.
Namun sial—siang itu jalan utama menuju distrik timur macet total. Barisan mobil menumpuk, klakson bersahut-sahutan. Arsenio menumbuk setir keras. “Sialan!”