Ada sesuatu yang menyentuh tentang 'Lemon' yang membuatku selalu kembali mendengarnya. Liriknya, meski sederhana, punya kedalaman emosional yang langka. Versi Indonesianya bisa dibilang cukup faithful ke original, tapi tentu ada nuansa yang hilang karena perbedaan bahasa. Misalnya, baris '夢ならばどれほどよかったでしょう' (yume naraba dore hodo yokatta deshou) diterjemahkan jadi 'Andai ini hanya mimpi, betapa indahnya'—masih captures the longing, tapi kehilangan irama aslinya. Aku suka bagaimana transliterasinya tetap mempertahankan rasa melankolis Kenshi Yonezu, meski kadang terasa agak kaku.
Yang bikin menarik, beberapa komunitas fans bikin versi terjemahan kreatif sendiri dengan pendekatan lebih puitis. Contohnya, 'Sisa-sisa cahaya di sudut ruangan' untuk '部屋の隅にある光の跡' (heya no sumi ni aru hikari no ato). Ini lebih evocative menurutku dibanding terjemahan literal. Tapi ya, beauty is in the eye of the beholder—tergantung preferensi personal apakah mau sticking to official translation atau eksplorasi interpretasi lain.