Lusia
Lusia berbicara terbata bata karena mulutnya masih penuh dengan roti, bahkan saus menempel di bibir Lusia.
Brent tersenyum tipis, “Nama yang cantik,” puji Brent. Lusia mengangguk dan berterima kasih. Lusia dengan lahap menghabiskan roti itu, perut yang tadinya meronta ronta kini sudah menyang terisi makanan.
“Terima kasih Brent, atas pertolongan dan juga makananya.” Lusia takt au harus berterima kasih dengan apa. Tapi yang jelas, Brent adalah orang paling baik yang Lusia temui seumur hidupnya.
Hot Chapters