Balada Asmara Biduan Dangdut
Tapi percuma, dia terus membenamkan barangku, memainkannya dengan mulutnya, seperti anak kecil yang sedang diberikan es krim.
“Sudah, Wik!”
Dia menggeleng.
“Aggrrhh, sial. Stop!”
Dia tak peduli dan terus memainkannya. Sampai tiba-tiba sebuah cairan putih menyembur dengan deras!
Croottt!!!
“Astaga, Mas?” Dia tercengang sambil mengelap cairan itu yang tercecer di sekitar pipi. “Kamu keluar?”
Wajahku datar saja. Badanku terkulai lemas. “Sudah kubilang kan barusan? Stop!”