PENYESALAN SEORANG LELAKI
“Jangan berandai-andai lagi, semua sudah terjadi. Ikhlaskan saja, maafkan, lupakan. Sekarang pulang, minta maaf sama istri kamu, dan mulai semua dari awal. Aku yakin Mbak Sinta pasti mau kalau diajak memperbaiki biduk yang sudah retak.”
“Bagaiamana caranya Abang melupakan kamu, Mel. Kamu tak berubah sedikit pun, bahkan saat marah masih berusaha berkata lemah lembut, tak mau meninggikan suara juga tak harus banting-banting yang di depan mata.”
“Sudahlah, Dika, cukup! Jangan mengungkit kenangan lama.”
“Tapi kenangan itu masih ada terus bahkan akhir-akhir ini datang dalam mimpi Abang. Tak tenang hidup Abang dibuatnya.”