Menjelang Pernikahan
“Kuharap kamu jangan pernah mengotori pikiran dengan prasangka-prasangka buruk. Isti yang kukenal adalah perempuan baik berhati bersih. Tetap jaga itu, untukku, untuk anak-anak kita nanti, terutama untuk dirimu sendiri. Ingat baik-baik, cinta saja gak cukup untuk kita bisa mempertahankan suatu hubungan. Tetapi, sebuah kepercayaan pasti mampu mengokohkan pondasi yang kelak akan kita bangun.”
Entah mengapa hati Istri seperti tercubit dengan kata-kata tersebut. Hampir saja ia menghancurkan asa yang tengah mereka rancang bersama. Hanya sebab berkurangnya perhatian Bahtiar, Isti telah begitu tega menyangkakan sesuatu yang seharusnya tak boleh ia pikirkan sama sekali.
“Terima kasih, Mas. Terima ka
Hot Chapters