KEMBALINYA SANG RATU
Ia memulai ceritanya dengan suara yang tegas, membungkus malam dengan kenangan heroik:
“Beberapa abad yang lalu, ketika butiran bubuk senjata mulai meracuni langit Nusantara, Hutan Lambusango menjadi benteng terakhir. Para pejuang kita, memanfaatkan rimbunnya lumut dan akar bambu menjadi jerat gerilya—menunggu di balik pepohonan, menyerang pasukan Belanda yang berlengkapkan panser dan meriam. Di situlah, Oputa yi Koo dan pengikutnya menunjukkan betapa jiwa manusia bisa tak terkalahkan, meski dihadapkan pada alat-alat besi dan ledakan mesiu. Ia mengajarkan bahwa di atas tanah suci, darah pun tak pernah sia-sia.”
Lintang menatap pepohonan, seakan merasakan denyut langkah kaki para pejuang yang