Teman Tapi Suami Istri
"Ya ampun, kamu memang perempuan baik Sarah, Mamah jadi merasa berhutang budi."
Sarah semakin tidak mengerti. Ia mengernyitkan dahinya mencoba mencerna sekali lagi ucapan Mama Vanya. Namun tetap saja, ia tetap tidak mengerti. "Maksud Mama bagaimana, kok berhutang budi."
"Iya, kamu tau nggak Sar," tiba-tiba obrolan menjadi sangat seru. Keantusiasan Mama Vanya sangat terlihat dari raut ekspresi serta nada bicaranya. Lalu, wanita setengah abad itu menatap menantunya dengan sorot mata yang berbinar tanpa ditutup-tutupi. Jika Umi termasuk seorang ibu yang kalem, berbeda dengan Mama Vanya yang begitu ekspresif dan banyak bicara persis seperti Rafi.