BUKAN HASRAT SUAMIKU
Namun, ketika mata sedihnya melihat sekilas ke arahku, jemari yang tadi ingin membuka kancing kemeja yang masih melekat di tubuh sekarang hanya beralih menggulung lengannya saja hingga ke siku.
Aku berjalan ke balkon. Seketika hati terasa begitu nyaman dialiri kelegaan yang luat biasa. Sikembar tengah asyik bermain di sana, tentu saja dengan para suster yang telah kuperkerjakan untuk menjaga mereka.
"Kau, tidak perlu menyewa orang sebanyak itu, Mr. Aku Ibunya ... " Aku memejamkan mata mendengar semua keluhan wanita di belakangku ini.