Akan Kubalas Pengkhianatanmu, Mas!
“Saya nggak berani, Mbak. Saya nggak punya maksud apa-apa, kok, cuma sekadar berbagi pemikiran aja sama Mbak. Kakak saya dulu juga pernah ditinggalin sama suaminya sewaktu hamil besar. Dia frustrasi seperti Mbak ini, ke sana kemari nyari pinjaman buat lahiran. Kasihan.”
Tatapan Joyce sedikit meredup, matanya terpaku pada bayangan sang sopir di kaca spion. Seketika, rasa penasaran tumbuh dalam dirinya. "Kamu mau modusin saya, ya?”
Sopir itu menoleh sebentar ke belakang, menunjukkan senyum penuh pengertian.
"Lupain aja, Mbak. Harusnya saya nggak bawa obrolan pribadi sewaktu kerja.”