Membuat cerita dari pengalaman pribadi itu seperti meramu sebuah masakan khas; butuh bahan yang tepat dan sedikit kreativitas. Pertama-tama, saya selalu mulai dengan momen yang kuat—sebuah insiden, perasaan, atau perubahan hidup yang mengubah pandangan saya. Misalnya, saat saya pertama kali mendengar lagu tema dari 'Your Lie in April', hati ini seperti dicabik-cabik mengenang pengalaman pahit dan manis dari masa lalu. Dari situ, saya membangun konteks, suasana, dan karakter dalam cerita. Membawa pembaca merasakan bagaimana saya menghadapinya itu penting. Tanpa emosi yang mendalam, cerita bisa terasa datar. Nah, setelah punya kerangka cerita, saya suka berputar-putar pada tantangan yang muncul, dan bagaimana saya melewatinya. Setiap detail kecil sangat berharga, seperti bagaimana sinar matahari masuk melalui jendela saat saya merenung atau bunyi tetesan air hujan saat saya merasa kesepian.
Bagian terakhir adalah refleksi. Saya tidak hanya ingin menceritakan pengalaman, tapi juga apa yang telah saya pelajari. Bagi saya, cerita yang menarik adalah cerita yang membuat pembaca merenung, atau bahkan terinspirasi untuk berbagi pengalaman mereka sendiri. Memberikan sentuhan pribadi bisa memberikan kedalaman lebih bagi cerita kita. Jadi, intinya adalah memadukan kejujuran, emosi, dan pembelajaran dalam setiap cerita yang kita buat.