Suami Adikku Memuja Rahimku
Silver Swankering sudah air matakukata kata dibalik senyumkusenyuman terlukis di wajahkutampar aku di pipi
Kami bukan lagi Sekar Djayadi yang haus dendam atau Mahesa Dinata sang pangeran konglomerat, melainkan dua jiwa yang sama-sama mencari tempat untuk bersandar.
Matahari mulai merendah, membiaskan warna jingga kemerahan di sela-sela pohon kamboja. Mahesa akhirnya bangkit, namun genggamannya tetap erat. Ia membersihkan celana kainnya yang sedikit berdebu dengan satu tangan, lalu menatap nisan di depannya untuk terakhir kali.
“Ayo,” ajaknya lembut, suaranya kini terdengar lebih ringan. “Aku tahu tempat yang bagus untuk melihat matahari terbenam."