Pria Alfiyah
"Iya sih, tapi ... perlakuan dia ke aku, kaya es. Dingin banget, keras lagi. Beda kalau sama kamu dan kak Iklil, hangat kaya kopi yang baru diseduh, iya, kan?"
"Kalau es, bisa dicairkan, bukan? Kalau keras bisa dilunakkan, bukan? Percuma kak Iklil hangat padaku, namun hatinya hanya untuk wanita lain," ungkap Aini.
"Apakah kita termasuk orang yang egois? menginginkan laki-laki yang entah siapa pemiliknya."
"Aku tidak tahu, Ra," imbuh Aini.
Lamunan mereka dikejutkan oleh mbak Uci, membuat keduanya tersedak salivanya masing-masing. Mereka tidak sedang meminum ataupun memakan apapun.
Hot Chapters