Bara Dendam Sang Prabu Boko
Kedua pasang mata mereka berkomunikasi dalam bahasa "Oh-kami-sudah-menduganya-tapi-tak-secepat-ini."
Jentra mendesah, pelan namun menusuk, lalu berdiri dengan gerakan yang terasa dramatis. Matanya memancarkan kekecewaan bercampur rasa kasihan yang kental—campuran yang tak biasa untuk seorang Jentra. "Sudah aku bilang, Rukma," ujarnya, nadanya seperti keranjang rotan berisi paku, menusuk setiap celah kekebalan mental Rukma. "Kau tidak pantas mengorbankan kesetiaanmu kepada Medang dan Maharaja hanya untuk perempuan itu. Kau tahu, ‘perempuan dari Walaing’ itu? Ya, dialah yang kubilang itu!" Jentera membenarkan jubahnya, seolah persiapan fisik diperlukan untuk ceramah tingkat dewa yang akan ia b
Hot Chapters