Dalam lingkup pergaulan urban yang sering kusimak, konsep 'Marriage with Benefits' muncul sebagai bentuk relasi yang menggabungkan kestabilan pernikahan dengan fleksibilitas hubungan non-monogami. Aku pernah mendiskusikan ini dengan teman-teman komunitas book club yang beragam latar belakangnya - beberapa melihatnya sebagai evolusi alami hubungan di era digital dimana komitmen emosional dan eksklusivitas seksual tak selalu berjalan beriringan.
Yang menarik, pola ini seringkali dipraktikkan oleh pasangan yang sudah menjalin ikatan kuat secara intelektual atau finansial, tapi ingin mempertahankan kebebasan pribadi. Aku menemukan paralelnya dalam karakter-karakter novel 'The Unbearable Lightness of Being' dimana cinta dan seks dipisahkan secara filosofis. Tentu saja, ini membutuhkan komunikasi super transparan yang tidak semua orang mampu menjalankan.