로그인Tak ada yang istimewa dari hidup seorang Wulan, selain paras cantik dan otak cerdas. Hidup tanpa figur seorang Ibu, Wulan diperlakukan tidak baik oleh sang Bibi yang menumpang di rumahnya. Terdesak kebutuhan hidup, ketika sang Ayah jatuh sakit, Wulan terpaksa pergi ke kota untuk mengadu nasib. Dan di sanalah segalanya bermula. Semua berawal dari bertemunya Wulan dengan seorang pewaris hotel berbintang, bernama Askarion. Seorang cassanova impian para kaum hawa. Tak sengaja menjadi saksi mata kebejadan seorang Rion, membuat Wulan terjerat pada laki-laki itu. Tak akan mudah melepaskan diri dari Rion, sebab Rion telah melingkarkan tali emasnya di leher Wulan. "Aku tau hidupmu susah. Cukup jadi menantu untuk orang tuaku, maka semua yang kamu inginkan akan aku kabulkan." __Askarion__ Akan tetapi, itulah titik awal kacaunya hidup Wulan. Setelah menikah dengan Rion, Wulan harus tahan banting dengan kehidupan yang berputar di istana Mahendra. Persaingan para kakak ipar, intrik para anggota keluarga untuk mendapatkan tahta. Semua terus menekan Wulan, agar ikut terlibat di dalamnya. Belum lagi kelakuan Rion yang tak pernah berubah, bermain dengan para barbie mainannya. Bagaimana Wulan harus mengatasi cinta yang tumbuh di tengah kemelut yang terjadi? Ketika hadir orang-orang dari masa lalu, akankah mampu membuat Rion sadar akan cintanya pada Wulan? Sebab cinta yang berawal dari uang dan materi, kini berubah menjadi sebuah obsesi yang menuntut sebuah pencapaian.
더 보기My eyes cracked open slowly and I felt great. I could tell before even fully opening my eyes that I felt great. The bed was so comfortable and soft, I could literally get lost in the feel. The thick grey curtains were parted slightly giving way to a tiny sliver of light coming in from the windows at the right side of the room?
That's not right. At all. Wait, grey curtains? I never used grey curtains in my house, my curtains were white and the windows were on the left side.
I immediately jolted up off the bed and realized I was naked.
"Oh my God, what the heck!." was my first and only thought.
I saw my clothes lying by the side and quickly put them on. I was looking around for my phone, I started touching and feeling around the bed for my phone.
I felt something, alright, and it definitely wasn't my phone. It felt veiny and thick. I quickly withdrew my hands and pulled up the duvet to reveal a fully naked man. I shouldn't have but I screamed, causing him to wake up suddenly. He rubbed his eyes before realizing I was there.
"Who the hell are you? Why are you in my house?" He asked immediately.
"I should be asking you the same question, why am I in your house? Why am I naked? How did I get here? Did you kidnap me? Why are you naked? Oh my goodness, you raped me." I pointed an accusing finger at him. He rolled his lazy eyes as he picked his shorts off the side of the bed and wore it.
"Why would I rape you? We were both drunk at the party and you–"
"I'm calling the police right now!" I yelled, looking around for any phone I could find but there was none. He started stalking towards me and I forgot myself for a moment, losing myself in his silver-eyed gaze. My eyes literally didn't want to be taken off him.
He was very handsome, spotting brown curly hair with blonde highlights. His hair was a mess as he just got out of bed a couple minutes ago. My eyes travelled down to his naked body, trailing from his thick looking chest to his visible abs to his inny belly button to his V-line and ending on the band of his shorts. I dared not look lower.
I immediately caught myself staring too much and I did the first thing that came to my mind; I ran. I ran out of the room. I probably should've ran out of the house but the heavenly smell of breakfast had me running towards it. I saw two guys who looked at me like something out of a horror movie.
"Um....hi?" I gave them my poor attempt at a smile. I heard goldie walking down and I quickly charged towards the guys, picked one of their plates and ran out the door. I heard them calling after me but I kept running. I literally had no idea where I was or where I was running to but I ran.
After a while, I stopped to look behind me and when I was convinced they weren't following me, I sat on a bench and ate the breakfast which consisted of sausages, bacons and eggs. I wasn't even aware of where I was, I just wanted to eat.
After eating, I registered my surroundings and realized I wasn't that far from my place. I looked back and realized it wasn't even that far from my place. I'd been running for only about seven minutes. I sat there to catch my breath and digest the food I'd just ate, remembering what just happened in the process.
Although I didn't exactly remember the whole thing that happened yesterday, I remembered a little bit of it and Goldie (the guy whose house I just ran out of and whose name I didn't know so we're just going to call him that) didn't kidnap or rape me. Infact, we had a one nightstand. I remembered getting in his car willingly but the rest was a blur.
I didn't regret it though. I would've, if he wasn't hot and sexy but he was. I sat there and remembered the way he stared me down, his pretty eyes burning holes all around my body. Honestly, if looks could kill, I'd prefer to die by his.
I could've walked all the way to my apartment; it was just about a fifteen to twenty minutes walk but I didn't. I didn't have any money either so I couldn't hail a taxi. I thought about calling one of my friends to pick me up but I didn't have my phone and I didn't even know their numbers by heart so like always, I did the first thing I thought of.
I stuck out my thumb for the first car I saw. The engine roared to a stop and I came face to face with a friendly looking old man who gave me a warm smile. Most men wanted one thing from a young lady but this one had a different look on his face; I still couldn't trust anyone though.
Trusting someone randomly was how I ended up in a stranger's bed for the first time. I cleared my throat and put on my fake English accent. I stayed in England with my fathers for a while so I have a bit of the accent lying around somewhere.
"Hello there, kind sir, sorry if I might be dischurbing you or anyfing but I seem to have lost my way." I told him, feigning innocence. He nodded in apprehension and gave me a calm smile. Turns out he was also English.
"Not to worry, lassie, where are you off to and how did you even get here?"
"I'm an exchange schudent here, I akchully just landed a couple of hours ago and decided to take a tour. My bags have already been sent to my new apartment but I cont seem to find my way there. If you would be so kind as to help, I would definitely be grateful." I told him.
I gave him the address of the apartment behind mine and waved to him when he dropped me. When I saw that he was far gone, I sighed and walked back to my apartment contentedly.
"Kamu diam, saya anggap kamu setuju untuk tidak berkomunikasi lagi sama Owen. Satu hal yang harus kamu ingat, Wulan. Setelah kita menikah nanti, maka terputus sudah hubungan pertemanan kamu dengan lelaki mana pun. Termasuk Owen," tegas Rion. Suara beratnya mengisyaratkan sebuah keseriusan untuk kalimat yang baru saja ia ucapkan. Sekaligus menjadi peringatan tegas bagi pihak Wulan."Apa harus seperti itu, Pak?" cicit Wulan mengerutkan keningnya, "Owen itu satu-satunya teman yang saya punya," imbuhnya mencoba memberikan penjelasan pada Rion, tentang seperti apa hubungannya dengan Owen."Kamu tidak butuh Owen ataupun orang lain lagi, selama kamu memiliki saya." Sekelumit jawaban dari Rion yang terdengar begitu sombong di telinga Wulan.Tak menjawab lagi, Wulan hanya memilih untuk menjauh dari Rion. Percuma berdebat, karena hasilnya akan tetap sama--Wulan tak akan pernah unggul dari Rion.Setelah sedikit drama perdebatan yang nyaris membuat Rion marah,
Tak nyaman melihat ponselnya ada di tangan Rion, Wulan segera menghampiri laki-laki itu.Grep.Serupa kecepatan cahaya, Wulan merenggut ponselnya dari tangan Rion. Mata pun terlihat sengit menatap laki-laki di depannya. Kontras dengan Rion, yang nampak santai saja meski sudah kepergok melihat isi ponsel Wulan tanpa izin."Ini privasi saya loh, Pak. Kok Bapak gitu sih, main buka-buka HP orang tanpa izin?" ketus Wulan sembari mengecek apa saja bagian ponsel yang sudah Rion bajak.Rion mencebirkan bibir, "Hm, kamu sama Owen itu sebenarnya berteman apa pacaran? Sepeduli itu Owen sama kamu. Well … di dunia ini, enggak ada yang namanya sebatas teman antara laki-laki dan perempuan. Pasti, akan dan selalu ada salah satunya yang memiliki perasaan lebih dari teman," sahut Rion, langsung saja mengatakan isi pikirannya saat itu."Itu bukan urusan Bapak!" sungut Wulan menimpali pertany
Wulan berdecak, "Ck! Bukan gitu, Pak. Tapi saya juga ada urusan lain. Kenapa malah dibawa ke apartemen Bapak lagi, sih? Kan baru setelah Bapak selesai kerja, kita akan pergi ke rumah Ayah saya," tutur Wulan. Sebenarnya dia ingin sekali lepas dari Rion hari ini, karena harus menemui Owen. Sejak pagi tadi, Owen terus memberondong ponsel Wulan dengan pesan-pesan singkatnya."Kayaknya kamu memang ingin sekali lepas dari pengawasan saya, ya?" tanya Rion, menatap Wulan curiga, "mau ke mana? Kalau mau pergi, nanti biar diantar sama Hendar, setelah dia antar saya ke kantor," lanjutnya.Di kursi kemudi, Hendar tampak tersenyum. Entah apa juga yang membuat laki-laki itu merasa lucu mendengarkan obrolan Rion dan Wulan.Terang saja Wulan pun gusar atas jawaban Rion. Belum sah menikah saja, Rion sudah menunjukkan sikapnya yang suka mengatur. Sebenarnya lebih ke mengekang."Ih, apaan sih, Pak? Saya itu belum jadi
Grep.Rion memegangi kedua pergelangan tangan Wulan, menurunkannya perlahan."Rileks, Wulan," bisik Rion lagi, "kalau kamu terus bersikap kaku seperti ini, itu hanya membuat saya semakin tertantang. Atau, memang kamu memang berniat menantang saya?" imbuhnya mencetak senyum devil di wajah.Wush!Bereaksi cepat, Wulan menepiskan pegangan tangan Rion dari lengannya, lalu mendorong cukup kencang dada laki-laki itu. Kontan, Rion mundur beberapa jengkal dari posisinya, membuat jarak di antara mereka pun tercipta. Wulan merasa aman. Sesaat tadi, ia hampir saja menendang bagian bawah Rion--kalau saja ia tidak ingat sedang membutuhkan laki-laki itu."Bapak ini, ya, benar-benar udah enggak bisa diselametin lagi," sungut Wulan. Hanya bisa berprotes lewat kata-kata, saat Wulan tak bisa memberikan aksi atas ucapan Rion tadi."Apanya?" Rion menyahut, sembari bersidekap di depan dada."Pikiran Bapak!" Jawaban ketus dari Wulan, sebelum ia beralih pos
Berpikir sejenak, Wulan coba menelaah dengan baik maksud dari pernyataan Rion tentang pernikahan mereka. Sebab, bagi Wulan sendiri, pernikahan yang akan ia lakukan dengan Rion tidak ada bedanya dengan kawin kontrak yang belakangan marak terjadi. Tapi, hal itu sepertinya berlawanan dengan statemen
Sementara itu, Rion telah sampai di dalam kamarnya. Di sana, ada Wulan yang sedang duduk di tepian tempat tidur--berkutat dengan ponsel.Brugh.Rion duduk menjejeri Wulan, sampai gadis itu pun menoleh kepadanya."Selamat Wulan, kamu berhasi
Perjamuan makan malam dalam rangka menyambut calon menantu baru di keluarga Mahendra, berlangsung cukup hangat dan menyenangkan. Terutama Setyo Restu Mahendra--kakek Rion, yang sangat senang karena akhirnya si cucu bungsu akan segera menikah. Laki-laki yang usianya sudah terbilang sepuh itu, begi
Pukul 19.30 malam.Hendar memarkirkan mobil di halaman luas rumah keluarga Mahendra. Akan tetapi di jok belakang, wajah Wulan masih saja masam--karena Rion yang sewaktu di salon tadi, memaksanya untuk mengganti gaun yang sudah ia pakai. Padahal, sebenarnya Wulan suka ketika mel
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰