Dosa dalam Cinta
Rumah tua itu berdiri di ujung gang sempit Batavia, dinding-dinding kayunya retak dimakan waktu, jendela-jendela kaca pecah menciptakan bayangan tajam di lantai yang berdebu. Aroma kayu lapuk bercampur bau tanah basah menyeruak di udara, dan di sudut-sudut ruangan, cahaya lentera yang redup menciptakan bayang-bayang panjang, seolah roh-roh masa lalu mengintai di balik gelapnya sudut-sudut rumah itu. Di tengah ruangan, sebuah meja bulat tua dipenuhi peta yang lecek, catatan-catatan lusuh, dan gelas-gelas yang tak disentuh. Di sanalah Satrio duduk, tubuhnya lelah, matanya merah karena amarah yang ditekan, dan wajahnya tertutup keringat dan debu. Di seberangnya, Sekar berdiri dengan kedua tanga
Sikat na Kabanata