LOGINDi bawah langit Batavia yang kelabu, Satrio Kusumo pulang dari Belanda dengan harapan besar, hanya untuk mendapati kotanya telah berubah menjadi panggung rahasia, pengkhianatan, dan luka lama yang belum sembuh. Pertemuannya dengan Sekar Puspita—perempuan memesona dengan masa lalu kelam—membuka pintu cinta yang manis sekaligus berbahaya. Di balik hubungan mereka, tersembunyi kebenaran pahit: ayah Sekar adalah pengkhianat yang menghancurkan keluarga Satrio. Di antara kerumitan cinta dan dendam, muncul Citra Anindita, gadis sederhana yang mencintai Satrio dalam diam. Namun, cinta itu harus terhempas saat Rangga Adibrata, sahabat Satrio yang menyimpan ambisi gelap, menjadikan Citra korban intrik. Diculik dan dibuang, Citra menghilang dari kehidupan Satrio. Sekar, yang diliputi rasa bersalah dan pengkhianatan dari Rangga, akhirnya hancur dan menghilang dalam arus sungai. Satrio, kehilangan cinta dan kepercayaan, mengasingkan diri. Bertahun kemudian, ia menerima kabar bahwa Citra masih hidup—namun sekarat. Ia menemuinya di biara, hanya untuk mendengar kata cinta terakhir yang tak pernah sempat terucap. Citra mengembuskan napas terakhir dalam pelukannya. Dengan hati hancur dan jiwa yang sunyi, Satrio kembali berjalan sendiri. Tidak ada kemenangan, hanya jejak luka dan dosa yang tak terhapuskan. Kisah cinta mereka berakhir dalam tragedi, tetapi kenangannya tetap hidup—membayangi langkah-langkah yang tak pernah sampai pada damai.
View More――離婚届って、こんなに軽いんだっけ。
ペラリとした一枚の紙。緑色の淵で彩られた用紙を、私は区役所の窓口に差し出した。
記入漏れも修正印もない。事前に全てチェック済のものだから、問題は無いと思う。ふたりで出さないといけないのかと思いきや、夫――いや、正確には【元】夫は欠席だった。定職も就いていないくせに、最後の最後まで逃げて終わった。私の前に姿を見せることなく、予めサインだけ済ませた書類を郵送してきたのだ。あいつは浮気しただけじゃなく、借金までして貯金を食いつぶし、挙句、愛人を妊娠させて私の前からドロン(逃げた)した。
「……これで、終わり、か」
無意識に漏れた声が書類を受け取った窓口の職員に聞こえたらしく、軽く頷かれた。
「お疲れさまでした」
まるで区役所を出るときの「よい一日を」くらいのテンションで言われ、私は無言でその場を後にした。
これで、私、山川ひかり(30)――は、旧姓の中原ひかりに逆戻りし、おひとりさまとなった。
たった2年の結婚生活にピリオドが打たれた。
東京の空は晴れている。見上げると憎らしいくらい青かった。だけど胸の内はどんよりと曇っていた。
※
「おい、資料はもう送ったのか?」
声が飛んできたのは、社内で“氷の上司”と噂される本部長――御門蓮司(みかどれんじ)・御年35歳のデスクからだった。
シゴデキ、ルックス良し、愛想ナシの行き遅れ男。仕事は早く無駄が一切ない。この人のプライベートに関わる女性は、さぞ完璧を求められて大変だと察するに余る。
私は椅子から立ち上がり、資料の束を胸に抱えて歩み寄る。「はい。クライアントには先ほどメールで……」
言い終える前に、彼の視線が私のミスを見つける。彼は一瞥するだけで、間違いを指摘してきた。
「この数値、前回の資料とズレてる。確認したのか?」
「あ……すみません。修正して再送します」
「すみませんで済むなら営業は要らない。次はないと思え」
怒鳴らないが痛いところを静かに突く。淡々と、鋭く、冷たい。でもそれが彼のいつものスタイル。
そして部下にとって、なによりも厳しいのは――期待されていない事実だった。
御門本部長に褒められる部下を、私は見たことがない。
むしろ、彼の信頼を勝ち取った人間がいるのかすら謎だ。私は静かに席に戻り、震える指で修正作業に取りかかった。
離婚しても会社には来なきゃいけないし、仕事が終わるわけでもない。私の中ではとてつもない決断を下し、旧姓にまで戻り、戸籍が変わった記念すべき日だというのに、周りは通常運転だ。今日くらいミスしてもいいだろう、なんてことにはならない。
(……仕事くらい、ちゃんとやらなきゃ)
家庭も、愛も、お金も、全て失ったのだから。
Langit di atas Batavia yang telah runtuh tidak lagi menunjukkan arah. Matahari tenggelam di balik reruntuhan kabut, dan laut, yang dahulu menjadi cermin bagi cahaya surga, kini hanya genangan gelap yang menelan semua bayangan. Sebuah desa kecil berdiri di ambang kehancuran dan kebangkitan, sunyi namun tak pernah sepenuhnya tidur. Di bawah pohon beringin yang tak lagi rimbun, di tengah tanah yang pernah terbelah oleh kutukan dan darah, seorang lelaki duduk bersila dalam diam.Satrio.Tubuhnya tua, tidak hanya oleh waktu tetapi oleh semua beban yang tak pernah benar-benar bisa dilepaskan. Di dadanya, bekas luka lama—luka dari perang, dari cinta, dari pengkhianatan—masih terasa berdenyut. Namun tidak lagi panas. Tidak lagi memohon untuk diperhatikan. Luka itu kini hanya menjadi tanda, bahwa ia pernah bertarung, dan meski kalah dalam banyak hal, ia tidak pernah sepenuhnya menyer
Langit di atas Batavia pagi itu memerah seperti luka yang baru menganga. Matahari menggeliat di balik kabut yang berat, memancarkan sinar samar yang terpecah di antara retakan awan, menciptakan semburat jingga yang pucat. Angin membawa aroma asin laut bercampur tanah hangus, bisikan masa lalu yang masih melekat di udara, seolah dunia ini belum sepenuhnya sembuh dari luka-lukanya.Satrio berdiri sendiri di tepi pantai, kakinya terbenam dalam pasir basah yang dingin. Tubuhnya tampak renta, punggungnya sedikit membungkuk, matanya kosong menatap cakrawala, tapi di sorotannya ada cahaya redup yang tak sepenuhnya padam—cahaya seseorang yang telah kehilangan banyak, namun tetap memilih bertahan. Di dadanya, liontin lama yang tergantung pada seutas benang lusuh bergoyang pelan, memantulkan cahaya samar dari matahari yang enggan.Di pikirannya, wajah-wajah
Langit sore menggantung rendah di atas pantai, sapuan jingga yang merambat perlahan ke kelabu,seolah dunia sedang bernafas pelan, menahan isak tangis yang tak pernah terucapkan. Ombak menggulung perlahan, menghantam pasir dengan irama yang dalam, membawa aroma asin laut bercampur dengan bau tanah basah dan samar-samar jejak darah yang telah lama mengering. Di tepi pantai, Satrio duduk dengan tubuh agak membungkuk, napasnya pendek-pendek, sementara di sampingnya, anak itu—Ananta—menatap cakrawala yang tak berujung, matanya kosong, dalam, seolah menatap sesuatu yang hanya bisa dilihat olehnya.Hening menggantung di antara mereka, bukan ketenangan yang utuh, melainkan semacam jeda di ambang ledakan, di mana setiap detik menjadi pengingat bahwa apa yang tampak damai hanyalah bayangan yang menyamarkan jurang di bawahnya.Satrio akhirnya memecah kesunyian, suaranya ser
Waktu bergerak seperti bisikan yang menelusup di antara cabang-cabang beringin, mengalir melalui udara yang basah oleh embun, menggoreskan jejak-jejak yang tak kasatmata di kulit dan tulang. Matahari menggantung rendah di langit, memancarkan cahaya keemasan yang tampak palsu di balik bayang-bayang kelam yang menempel di tanah—bayang-bayang yang tak sepenuhnya hilang, meski dunia tampak berjalan maju.Anak itu berdiri di tengah lapangan kecil, tubuhnya tegak, mata menatap jauh ke depan, ke batas-batas yang tak terlihat. Di wajahnya terpahat bekas luka yang tidak kasatmata—luka yang bukan berasal dari benturan fisik, melainkan dari ingatan yang mencengkeram, bisikan yang mengendap dalam gelap, dan mimpi-mimpi yang mengiris kesadaran setiap malam.Tapi di sorot matanya, ada api yang tumbuh, bukan api dendam, melainkan cahaya tekad yang membara.
Malam menyelimuti Batavia seperti kain kafan, pekat dan mencekik, menyisakan hanya sisa-sisa bara api yang mengintip dari celah-celah puing. Bau anyir darah bercampur dengan asap menyengat menusuk hidung, membuat setiap tarikan napas terasa seperti me
Malam di Batavia menjelma menjadi ruang gelap yang menyesakkan, seperti perut binatang raksasa yang mendesah, menelan siapa saja yang melangkah terlalu dalam ke perut kota tua ini. Langit hitam menggantung berat, menutupi bulan dengan selimut kabut yang menebal, dan hanya
Malam menggantung di atas biara tua itu seperti jubah hitam yang basah kuyup, berat dan penuh luka. Hujan turun dengan suara monoton, deras, menghantam genting, meresap ke celah-celah dinding batu, seolah mencoba menghapus dosa-dosa yang terperangkap di tempat itu. Ar
Di luar biara, hujan turun tipis seperti bisikan doa yang terpecah di angin malam. Rintik air memukul genteng-genteng tua, menciptakan irama yang teratur namun penuh kesedihan. Udara terasa berat, dipenuhi aroma tanah basah, lilin yang hampir padam, dan wewangian keme






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.