TEROR SINDEN GHAIB
Bagas memang selalu berisik, dan Alvaro sejak awal memang terlalu dekat dengan Aruna Namun entah kenapa, mendengar nama Aruna disebut dengan nada seperti itu membuat dadanya terasa sesak Hileon memalingkan wajah, berpura-pura tertarik pada rak properti tari topeng kayu, selendang, dan hiasan kepala emas.
“Tenang,” gumamnya dalam hati. “Kamu bukan siapa-siapa.”
Kalimat itu ia ulangi, seperti mantra.
Ia wakil ketua. Rekan. Tidak lebih.
Aruna tertawa kecil di kejauhan. Suaranya ringan, tulus Hileon menutup mata sesaat.
Sementara itu, Pelangi sibuk memotret sudut-sudut sanggar. “Estetik banget, sumpah. Ini kalau di kota udah viral.”
Hot Chapters