Pembalasan Untuk Keluarga Suamiku Yang Toxic
Aku menarik napas panjang lalu menghembuskan dengan kasar, menghadapi keluarga, toxic, munafik, ular bermuka tujuh ini harus dengan extra bersabar.
"Rin! Mari kita pergi. Riko! Turun segera aku mau pulang jengah rasanya berlama-lama di keluarga, pembangkang, seperti mereka ini," sindirku dengan sengaja, ini sebagai pembalasan buat Cantika yang menghinaku dahulu.
"Din! Apa kami boleh tinggal di rumahmu? Menjadi pembantu saja tak apa asal kami digaji biar sedikit!" pinta ibu mertuaku dengan lantang tanpa malu dan kaku mengucapkannya.