Pak Boss, Galakk!
sekuat hati aku menahan agar suaraku tak meninggi.
"Hhhh...," ayah menghela napas berat. "Ayah hanya tak ingin putri Ayah tersakiti. Itu saja."
Aku tak ingin menjadi anak durhaka dengan terus membalas kata- kata ayah. Aku memilih meneruskan langkah untuk masuk ke kamar. Sesampainya di dalam kamar, kuhirup napas dalam- dalam untuk menetralkan rasa marah di dada. Pikiran buruk ayah mengenai Angga sungguh membuatku tak terima tapi mendengar jawaban yang ayah katakan bahwa tak ingin aku tersakiti membuatku marah. Tidak, aku tidak marah pada ayah, aku marah pada diriku sendiri. Tak salah apa yang dikatakan ayah, yang salah itu aku karena terlalu mencintai seseorang. Padahal apa yang disampaikan a
Hot Chapters