Menikah Dengan Abang (Abang Angkat)
“Nah jadi suami emang gitu, On. Harus banyak-banyak mengalah! Kalau dalam rumah tangga istri marah, beuh ... berasa rumah kayak kuburan. Kalau lo nyenengin bini, rejeki, usaha lo bakal lancar. Lancar selancar-lancarnya. Lo juga harus tau, kalau Istri itu jantungnya rumah tangga. Paham gak?”
Aku tersenyum mendengar penuturan Abang. Memang selama menjadi istrinya, aku merasa Abang sering mengalah, selalu berusaha membahagiakanku.
“Pahaaam ....” ucap Bang Dion pelan.
“Abang?” Aku memanggil suamiku.
“Iya, Sayang?”
“I love you.” Ucapku mesra. Silvi menoleh, seperti salah tingkah.
“I love you, more, Beb,” sahut Abang memanyunkan bibir dari kaca spion.