Desah Di Kamar Sebelah
“Tentu! Aku kan, suamimu. Imammu. Yang kasih kamu nafkah. Kalau istri itu tidak perlu tahu gimana-gimana suaminya. Udah, ah. Aku mau makan dulu. Belanjalah, Sayang. Pulangnya jangan terlalu lama. Aku setelah makan juga mau pulang.”
Ketar-ketir aku mendengarnya. Tidak. Aku tidak boleh terlambat. Aku harus lebih duluan sampai ke rumah ketimbang Mas Bayu.
“Iya. Udah dulu. Aku matikan.”
“Oke, Sayang. I love you, istriku.”