Bujang Lapuk ( Malam Pertama dengan Om Perkasa )
Jari itu merayap dimulai dari dahi, pipi, dagu, hidung kecilnya, terakhir di bibirnya yang terbuka dan merekah.
Keke merasa jantungnya berpacu kuat, dia seakan tercekik nafasnya sendiri. Aliran darah terasa cepat, merasa seperti selesai berlari.
"Ke," panggil Bujang, dia tak kalah resah.
"Apa masih sakit?" Keke mencicit, pertanyaan yang sesungguhnya tak berguna.