Pembalasan Sang Dokter Jenius
“Perisai mereka itu perisai jimat. Ilmu rendahan yang mengandalkan perjanjian dengan makhluk-makhluk kotor. Kau tidak bisa menghancurkannya dengan logam fana. Kau harus menghancurkannya dengan energi murni! Gunakan otakmu, bukan ototmu!”
Kang Kumis melempar senyum kemenangan terakhir pada Joko. “Sudah selesai main-mainnya, Kang?”
Suara baru itu datang dari si Ceking, rekannya yang sedari tadi hanya menonton dengan senyum tipis. Ia melangkah maju, berdiri di samping Kang Kumis. Di tangannya, ia kini memutar-mutar seutas rantai besi yang berat.
“Sepertinya dia sudah kehabisan akal,” kata si Ceking, matanya yang kosong menatap Joko. “Sekarang, giliranku.”