Dosen Galakku, Suami Rahasiaku
Langkahnya sangat pelan, sengaja mengulur waktu, tetapi tetap saja dia cepat sampai di sebelah Sagara.
Dengan satu gerakan, Sagara menariknya hingga duduk di pangkuannya. Lengannya langsung melingkar erat di pinggang Jingga yang kini mulai berisi.
“Kangen—” rengeknya dengan wajah memelas.
“Kita ketemu tiap hari loh, Mas. Dua puluh empat jam selalu bersama. Kok masih bisa kangen sih?” protes Jingga.
“Maksudku kangen yang ini, Sayang,” jawab Sagara sambil mendaratkan kecupan singkat pada dada Jingga yang masih terhalang kemeja.