Ada sesuatu yang magis tentang cara 'Berlalunya Waktu' menyentuh relung hati yang paling sunyi. Kalau suka atmosfer melankolisnya, coba 'Pulang' karya Leila S. Chudori—juga bermain dengan waktu dan kenangan, tapi lewat lensa sejarah Indonesia. Plotnya lebih kompleks, tapi sama-sama punya ritme contemplative yang bikin tenggelam.
Atau mungkin 'Laut Bercerita'? Ini lebih ke misteri, tapi punya sensasi serupa tentang sesuatu yang hilang dan dicari. Aku selalu suka bagaimana kedua buku ini, seperti 'Berlalunya Waktu', membuat pembaca merasa seperti sedang memungut serpihan memori yang berserakan.