Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Budak Kesayangan Sang Tiran

Budak Kesayangan Sang Tiran

Tekad yang membara. Dia berbalik ke ruangan, matanya menyapu setiap sudut, mencari sesuatu—apa pun—yang bisa membantunya. Lilin, air, handuk, botol-botol minyak … semua itu tidak ada yang berguna. Namun matanya tertumbuk pada cermin besar di sudut ruangan. Cermin besar itu, lebih besar dari dirinya. Dan di balik cermin itu, dia melihat sebuah celah. Celah kecil di dinding, mungkin lorong servis atau ventilasi.
105.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 103 kali sebagai kaca cermin besar
Baca
+Pustaka
Tanah Larangan: Jangan Bawa Pulang Apa pun

Tanah Larangan: Jangan Bawa Pulang Apa pun

Daunnya selalu bergerak, meskipun tak ada angin. Aku masuk. Dan di dalamnya, hanya ada cermin besar. Cermin itu berdiri sendiri, setinggi dua meter, bingkainya terbuat dari tulang—aku yakin itu tulang asli. Di permukaannya, tidak ada pantulan. Hanya kabut putih... dan bayangan samar: seorang perempuan duduk bersila, matanya kosong, tubuhnya membeku. “Mas Reza...”
1.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 56 kali sebagai kaca cermin besar
Baca
+Pustaka
TERLAHIR KEMBALI UNTUK MENGUBAH TAKDIR

TERLAHIR KEMBALI UNTUK MENGUBAH TAKDIR

Dinding luarnya retak, jendelanya berdebu, tapi di atas pintu kayu tergantung papan kecil bertuliskan Heri’s Mirrors. Begitu masuk, aroma kayu tua dan debu menyeruak ke udara. Rak-rak kaca berisi cermin berbagai ukuran memenuhi ruangan—ada yang berbentuk bulat, ada yang persegi panjang, bahkan beberapa tampak seperti artefak kuno. “Sudah lama tak ada yang mau masuk ke sini,” ujar Tuan heri sambil batuk kecil. “Anak-anak muda sekarang lebih suka kamera ponsel daripada cermin.”
101.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 62 kali sebagai kaca cermin besar
Baca
+Pustaka
Gairah Liar Istriku

Gairah Liar Istriku

Hanya lampu gantung kecil yang menggantung di tengah langit-langit, memancarkan cahaya lembut yang menimpa kulitnya seperti cahaya museum: hangat tapi dingin, hidup tapi seperti tak bernyawa. Yang membuatnya terpaku bukan furnitur minimalis atau aroma melati samar dari diffuser elektrik di pojok ruangan. Tapi sebuah cermin. Cermin besar berdiri tepat di hadapannya, setinggi tubuh manusia dewasa, dikelilingi bingkai kayu tua berukir bunga-bunga yang mulai memudar warnanya. Cermin itu berdiri tegak di ujung ruangan, seolah menunggu seseorang untuk menggunakannya. Namun saat Nara mencoba menatap bayangannya sendiri, tidak ada yang terlihat.
12.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 401 kali sebagai kaca cermin besar
Baca
+Pustaka
WARISAN DEWA YANG TERSEMBUNYI

WARISAN DEWA YANG TERSEMBUNYI

1. Kuil Cermin Begitu mereka melangkah melewati gerbang batu, dunia di sekitarnya berubah drastis. Tidak ada lagi pegunungan, tidak ada salju, tidak ada angin dingin. Yang ada hanyalah sebuah aula luas berlapis marmer hitam, dengan ratusan cermin raksasa berdiri membentuk lingkaran. Setiap cermin memantulkan bayangan mereka, tapi dengan wajah berbeda: lebih tua, lebih muda, lebih marah, atau lebih rapuh.
101.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 32 kali sebagai kaca cermin besar
Baca
+Pustaka
Rombongan Pengantin dari Alam Gaib

Rombongan Pengantin dari Alam Gaib

Meski benci itu sudah 99%, tetapi masih ada 1% yang tersisa untuk rasa rindu. Telunjuk Ki Gendeng mengarah pada samping tempat duduk Jajang. Sontak Jajang menoleh, lantas menyerahkan sebuah cermin besar dengan bingkai berpahat bunga teratai. Bagian atas memiliki kepala singa dengan taring panjang. Dari bahan yang digunakan, bisa diprediksi cermin antik itu sudah sangat berumur. "Untuk apa, Ki?" tanya Jajang, sebab sedari datang ia memang sedikit heran karena ada cermin di sana.
9.722.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 442 kali sebagai kaca cermin besar
Baca
+Pustaka
Paralaks Semesta

Paralaks Semesta

Aku tidak bisa percaya jika aku dimasukkan ke dalam cermin. Cermin itu tidak sebesar cermin yang ada di pintu lemari.Ukurannya hanya sebesar figura foto yang tentu saja kepalaku tidak akan muat jika diselundupkan lewat situ. Kecuali kalau mereka melipatku sih bisa.Tapi kan aku bukan kertas origami yang bisa dilipat lipat seenaknya. Banyak pertanyaan konyol yang mendadak muncul di benakku. Aku sampai tidak tau harus mulai dari mana. "Grandia" aku memanggilnya.
9.32.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 70 kali sebagai kaca cermin besar
Baca
+Pustaka
Menipu Sang CEO Buta

Menipu Sang CEO Buta

Cermin raksasa yang berwarna kebiruan, memantulkan pegunungan di sekitarnya. Butuh sekitar lima detik sebelum Ivy menyadari, jika cermin raksasa yang dilihatnya itu, adalah sebuah danau. Sebuah danau besar yang sangat jernih, berwarna kebiruan. Permukaannya yang diam tak berombak, memantulkan bayangan pegunungan yang ada di sekelilingnya, dan juga pohon-pohon cemara. Tanpa peduli dengan kakinya yang masih telanjang, Ivy membuka pintu mobil, dan berlari menghampiri cermin raksasa itu.
109.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 218 kali sebagai kaca cermin besar
Baca
+Pustaka
Bayangan Dalam Pandang

Bayangan Dalam Pandang

“... Ayo mulai, Shadow! Hitung sampai sepuluh!”, seruku. Shadow menyeringai, dan dengan penuh semangat, dia mulai berhitung. Aku pun tak buang-buang waktu, segera memasukkan tangan ke saku jas, mengeluarkan sebuah cermin bundar seukuran telapak tangan, dengan empat buah batu kaca tertanam pada bingkainya. Tentunya bukan cermin biasa, melainkan alat supranatural yang dapat digunakan untuk memindahkan tubuh penggunanya ke suatu tempat.
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 100 kali sebagai kaca cermin besar
Baca
+Pustaka
Kacamata Penakluk Wanita

Kacamata Penakluk Wanita

Kaus katun yang kupakai terasa aneh—kainnya menjuntai longgar di bahuku, tidak lagi sesak dan meregang di bagian perut seperti biasanya. Aku menatap cermin kecil di atas wastafel kamar rumah sakit. Wajah yang menatapku balik memiliki garis rahang yang tegas, tulang pipi yang menonjol, dan tatapan mata yang jauh lebih tajam. "Pelan-pelan saja, Bima. Tidak usah terburu-buru," Kakek bangkit dari sofa kulit yang sudah kempis, melangkah mendekat dengan gurat kecemasan yang masih membekas di dahinya.
4.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 105 kali sebagai kaca cermin besar
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status