PERMINTAAN GILA KAKAKKU
“Petuah apa, Kang?”
“Petuah hidup. Akang tahu saya bukan Daffa yang Akang kenal dulu.”
Ikhsan duduk di sampingku. Kami baru saja melaksanakan zuhur bersama.
“Antum itu tak tahu diri, Kang. Sombong, tinggi hati. Marah pada Gusti Allah seperti manusia paling nelangsa saja. Padahal Gusti Allah sudah memberikan segalanya. Antum itu buta. Hati antum sudah tak bisa melihat apa yang diberikan Gusti Allah. Bukan hanya karena mengambil satu orang itu tanda Gusti Allah membencimu, Kang. Allah azza wajalla tetap memberi antum dengan banyak anugerah, bahkan Dia menunggu Antum untuk kembali setiap waktunya. Sakit bukan merindukan istri, Kang. Dia, Allah azza wajalla, merindukan antum dari dulu.