Cinta dalam Balutan Doa
“Kang Khaidir, Kang Fajar. Bisa-bisanya kalian memperlakukan santri baru seperti itu to, Le.”
“Hal ini bisa merusak citra pesantren ini. Kalau tingkah kalian semena-mena pada santri baru. Santri batu itu butuh dirangkul supaya mereka itu kerasan, tidak malah ditakuti dan dijahili.” Kiyai Bisri terlihat marah. Namun, masih bisa mengontrolnya. Kang Khaidir dan Kang Fajar hanya tertunduk malu, tidak berani mengangkat kepalanya. Mereka berdua hanya mendengarkan sang Kiyai yang sedang dukani mereka.
“Kalian juga sudah dewasa, bisa-bisanya melakukan hal yang sangat tak pantas ini. Apa memang kalian berniat menjatuhkan nama baik pesantren dengan membikin ulah seperti ini pada santri baru.”