Antara Ambisi dan Cinta
Erna Azuracintanyaantara nyaman dan cintacinta dan pengkhianatancinta dalam kebisuan
Ezra merebahkan Cantika perlahan di atas seprai satin, lalu menyusul, tubuhnya menindih dengan kehangatan yang memabukkan.
Jemarinya menelusuri garis rahang Cantika, lalu turun ke lekuk pinggangnya. Bibir mereka bertemu lagi—kali ini lebih dalam, lebih menuntut. Setiap ciuman adalah janji, setiap sentuhan adalah pengakuan cinta yang tak perlu diucapkan.
Ezra berhenti sebentar, menatap matanya.
“Aku mencintai kamu, Cantik. Sejak usia sembilan tahun, malam ini … sampai kapan pun.”