LOGINCharlotte tak menyangka, keputusannya ‘pulang’ ke Tanah Air setelah satu dasawarsa berlalu akan menjungkir-balikkan dunianya, mengubah jalan takdirnya, hingga merekacipta hidupnya. Nyaris tiga dekade meniti hidup, ia tak pernah berpikir sama sekali akan jatuh ke dalam pelukan gurunya sendiri, seorang ustadz madamat pondok yang terpaut jarak usia teramat jauh darinya. Fajri, sosok ustadz kader berkarisma yang mewakafkan diri seutuhnya ke bumi Darussalam. Kemalangan hidup mengantarkannya ke mahligai pernikahan tanpa cinta. Laki-laki dingin nan pendiam itu akhirnya menemukan kedamaian dalam Ma’had sekaligus diri santriwatinya sendiri. Namun sayang, ia harus menekan rasa dalam sebuah ikatan sakral bersama perempuan lain.
View MoreRhea
“Those ass thick as fuck.” I spun around, my heart hammering against my ribs, to find Jackson and Brandon looming in my doorway. Jackson leaned his weight against the door frame with a predator’s grace, while Brandon held the door wide open, one hand shoved deep into his denim pocket. Their eyes were raking fire over every inch of my bare skin. “And your snatch is so full. Damn. I want a taste,” Brandon added, a small, dangerous smile curving the corners of his mouth. I wondered how long they’ve been standing there and how much of my naked form they’ve seen. Heat flared under my skin, and it wasn't just embarrassment. I was completely naked, caught in the middle of a frantic search through my wardrobe for a family dinner dress that I didn’t want to be in. “Have you both lost your damn minds?” I snapped. I lunged for the towel on my bed, whipping it around my chest and tucking it tight. “What the fuck is wrong with you two? I’ve told you a thousand times, knock before coming into my room!” Jackson chuckled, a dark, low rumble that seemed to vibrate in the air between us. He pushed off the door frame and stalked toward me. “Your door was wide open, Cat. Seems to me like you wanted us to see.” I let out a bitter, jagged laugh. “In your dreams. What do you want?” Jackson didn't stop until he’d swallowed the space between us. He towered over me, a breathtaking giant making me feel like a cornered mouse. It was infuriating how gorgeous he was, the sharp jawline, the scent of expensive sandalwood and trouble. It was enough to make my brain cells short-circuit and my hatred for this house, and the two of them, momentarily dissolve into a haze of treacherous longing. He looked down at me with an arrogant smirk, his green eyes locking onto mine with hypnotic intensity. “Your mother wants you downstairs. We wouldn't be here if you’d bothered to pick up your phone,” he said, his voice dropping an octave, becoming a private silk thread. The Jackson and Brandon I knew would never come to my room if my mother sent them. They hated her. In their eyes, she was the gold-digger who’d married their father for his millions, a threat to their inheritance. As for me, I was just the collateral damage. They never liked me either; I was part of the problem just by existing in their father's house. “You and I both know that’s not why you’re here,” I said, my breath hitching as he leaned closer. “Then why don’t you tell me why I’m here, Cat?” I hated that name. I fucking hated it. Every time they said it, my chest tightened. It made me feel small. Exposed. Like they’d already decided I was a pet, someone they could corner, toy with, and break if the whim struck them. Jackson’s lips hovered so close to mine that I could almost taste the mint on his breath. His gaze dropped to my mouth for a split second, and he swallowed hard, his throat working as if he were fighting every instinct to claim me right there against the wardrobe. “Your room's a mess,” Brandon's voice cut in, shattering the trance. I hadn't even noticed how near he was until then. He was behind me now, his presence a cold shadow. “Didn’t peg you for the disorganized type. Or are you just that desperate to find something that makes you look like a saint?” “Quit talking nonsense,” I snapped, stepping back from Jackson’s suffocating heat, only to collide with Brandon's solid chest. Now they had me trapped between them, their bodies caging me in like iron bars. Heat radiated from their skin, igniting my nerves until they screamed. My core throbbed insistently, a treacherous rush of wetness slicking my folds and trickling down my inner thighs.“Ruby seneng, bisa balik ke rumah ini, ke kamar Ruby dulu. Makasih Uwak,” sahutnya dengan suara bergetar. Ada debaran gila ketika akhirnya ia dapat menyebut nama keramat itu lagi.Lilis menaik-turunkan kepala dan mengulas senyum haru. “Uwak yang harus bilang makasih ke Neng. Neng Ruby udah mau pulang lagi ke sini, gak lupa sama Uwak, sama Eyang. Padahal, Neng udah sukses di luar negeri. Tapi, gak malu punya keluarga di Pangalengan.” Kini, sebelah tangannya menangkup pipi sementara tangan lain menggenggam tangan sang Keponakan.Astaga! Charlotte tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu. Bagaimana pun, Indonesia merupakan identitasnya, separuh bagian dari keutuhan dirinya. Indonesia adalah kampung halamannya. Ia sempat sengaja menampik itu semua karena perasaan malu yang tak berdasar. Ya, malu karena tindakan cerobohnya di masa lalu. Padahal, di sini semuanya baik-baik saja.Tanpa sadar, setetes bulir bening lolos dari pelupuk mata Charlotte. “Kenapa harus malu? Padahal Ruby yang udah
“Char, kamu gak apa-apa... kalau aku tinggal sendiri? Kalau kamu belum siap, ikut pulang lagi, yuk! Bilang aja ke Uwak kamu kita ada acara Ma’had,” ujar Avicenna memastikan.Charlotte tersenyum manis untuk meredakan kekhawatiran yang terpancar jelas dari wajah dan perkataan Avicenna. “Kamu tenang aja, aku bakalan baik-baik di sini,” jawabnya tenang.Avicenna menatap Charlotte intens. Lalu, perhatiannya beralih ke dalam toko di mana paman sahabatnya tengah serius meladeni pembeli. “Kalau ada apa-apa, cepet kabari aku, ya?” pintanya. “Pasti!” Charlotte mengangguk mantap. “Tenang aja, kamu ninggalin aku di rumah keluarga sendiri. Bukan di kandang harimau!” kelakar perempuan bermanik hazel tersebut. “Iya, sih. Tapi... aku tetep khawatir,” aku Avicenna jujur pada akhirnya. “Everything’s gonna be ok. Kamu cepetan pulang. Mau ke rumah Ibu, kan? Berangkat sana, takut kemaleman. Bahaya!” ujar Charlotte dengan nada risau yang teramat kentara.Avicenna hendak m
“Wow, that’s a huge crowd,” gumam Charlotte demi melihat keramaian di depan sana.Avicenna memasukkan kunci mobil ke dalam saku celana. “Woah, kalau aku tinggal di sini, dan doyan protein hewani, bisa sehat wal afiat, nih!” Perempuan itu berkata heboh tanpa berkedip.Dahi Charlotte mengkerut dalam menanggapi tingkah sang Sahabat. Bukan kesal apalagi malu. Sampai saat ini, setelah lebih dari lima belas tahun bersama, ia selalu terkaget-kaget dengan ke-random-an Avicenna. Perempuan manis itu hobi sekali melakukan hal tak terduga nan lucu. “Jadi, kita mau masuk atau... diem aja di pinggir jalan kayak gini?” tanya Avicenna.Charlotte menoleh ke kanan, ke arah sahabatnya tersebut. Rupanya, Avicenna tengah menatapnya dengan senyum dan sorot hangat. Avicenna seolah ingin menyalurkan kekuatan kepada Charlotte. “Yuk, masuk,” ajak Charlotte seraya membalas senyuman tulus Avicenna.Avicenna mengangguk mantap. Ia menggamit pergelangan tangan Charlotte. “Aku belum pernah ke
“Oh, iya, Char, alamat lengkap rumah Eyang kamu dimana? Kita udah masuk desa Cikalong, nih!” tanya Avicenna datar namun mampu membuat Charlotte membeku. Perempuan bermanik hazel itu mengerjap. Dan benar, mereka baru saja melewati tugu selamat datang. “Char... Char... Char,” panggil Avicenna sekali lagi setelah beberapa saat Charlotte tak menyahut. Avicenna bahkan menyentuh pergelangan tangan Charlotte dengan tangan kirinya. “Hah!” Charlotte tersentak. “Ya, Sen?” tanyanya tergeragap. “Alamat rumah Eyang kamu dimana?” tanya Avicenna sekali lagi, kali ini lebih mendesak. Sesekali, ia memutar sepasang bola matanya liar ke sebelah kiri dan kanan jalan. “Itu...” tukas Charlotte gugup. “Kamu belum tahu rumah Eyangku, ya?”Dahi Avicenna mengernyit dalam. Selama mengenal Charlotte, belum pernah sekali pun ia mengunjungi rumah sang Sahabat di Indonesia. Bahkan selepas nenek Charlotte wafat, perempuan bermanik hazel itu justru ikut bers
“Wah, aromanya enak banget!” Telapak kaki kanan Avicenna baru saja menyentuh anak tangga terakhir lantai satu. Tetapi indera penciumannya sudah disapa oleh aroma lezat dari arah dapur yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan. Lewat jarak tak lebih dari dua meter, ia dapat melihat mej
Trang Tek PrangTrang Tek PrangTrang Tek PrangSuara gaduh seperti permukaan besi yang dipukul-pukul konstan perlahan memanggil kesadaran Charlotte yang tengah dibuai mimpi. Perempuan bersurai golden brown itu mengerjap beberapa kali. Untuk sepersekian detik, dahinya mengernyit kebingungan menatap ker
D♭ Major - B Major - G♯ Minor - A♭ Major - F MinorMusik instrumental ‘Music of the Night’ tiba-tiba menyeret kesadaran Charlotte dari dunia mimpi ke dunia nyata. Mahakarya komposer Andrew Llyod Webber untuk teater musikal ‘The Phantom of the Opera’ itu tak hanya memenuhi kedua gendang te
“Wah, ada yang udah cantik sama wangi banget, nih!” celetuk Avicenna yang baru saja duduk di samping Charlotte. Ia bahkan menyenggol pelan pergelangan tangan sahabatnya itu. “Wah, ada yang udah cantik sama wangi juga, nih!” kelakar Charlotte membalikkan perkataan Avicenna. “Ma






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.