Industri hiburan mengalami perubahan menarik dalam representasi lesbian, dan aku melihatnya dari dua lensa yang berbeda. Di satu sisi, ada peningkatan signifikan dalam visibilitas karakter lesbian di serial TV seperti 'The L Word: Generation Q' atau 'Orange is the New Black', yang tidak sekadar jadi token, tapi punya arc cerita kompleks. Aku ingat dulu waktu kecil hampir tidak ada representasi sama sekali, sekarang bisa lihat hubungan queer dinormalisasi lewat animasi seperti 'She-Ra' sampai drama Korea 'Lily Fever'. Tapi tetap ada tantangan: seringkali cerita lesbian masih terjebak dalam stereotip 'tragic queer' atau overly sexualized untuk male gaze. Yang bikin semangat, platform indie dan web series banyak yang mulai eksplorasi hubungan lesbian dengan lebih autentik, jauh dari formula mainstream.
Di sisi lain, aku juga perhatikan bagaimana komunitas lesbian di industri kreatif mulai mengambil kendali naratif. Banyak penulis dan sutradara queer wanita yang bikin konten dari perspektif personal, kayak 'Portrait of a Lady on Fire' atau 'The Half of It'. Ini berbeda banget sama era 90-an ketika cerita lesbian selalu disensor atau dijadiin subplot sampingan. Media sosial juga bantu banget—aku sering nemu animator atau komikus indie yang share kisah relatable tentang dinamika hubungan sesama perempuan. Meski masih banyak progres yang dibutuhkan (terutama di negara konservatif), trennya menunjukkan pergeseran ke arah lebih inklusif, walau kadang masih tersandung-sandung.