Luka Yang Sisa Kenangan
Ayah Albert menyesap teh dengan tenang, “Panti asuhan ini didirikan atas nama Albert. Anak-anak di sana semuanya sangat manis.”
Jari-jari Luna sedikit bergetar.
Ayah Albert meletakkan cangkir teh, lalu berkata blak-blakan, “Keluarga Halim nggak pernah pedulikan soal garis keturunan. Kalau Albert sudah memilihmu, kamu juga nggak ada alasan menolak.”
Usai bicara, ibu Albert mengeluarkan sebuah gelang giok, “Ini pemberian ibu mertuaku dulu saat aku menikah. Sekarang, aku ingin memberikannya padamu.”
Hot Chapters