Latihan kecil tiap hari bikin pelafalan aku semakin presisi.
Awalnya aku fokus pada huruf-huruf yang nggak ada padanan persisnya dalam bahasa Indonesia: 'ع' (ain) itu suara dari dalam tenggorokan, bukan 'a' biasa; 'غ' (ghayn) mirip dengung di belakang tenggorokan seperti 'r' Perancis yang digulung; 'ق' (qaf) terdengar lebih berat dibanding 'k'; sedangkan 'خ' (kha) seperti hembusan serak, hampir mirip 'kh' pada kata 'Bach'. Menyadari perbedaan ini saja sudah banyak membantu membuat lirik sholawat 'Az Zahir' terdengar lebih asli.
Kemudian aku pecah liriknya jadi frasa pendek, pelan, dan ulangi sampai mulut dan tenggorokanku terbiasa. Bantuannya: dengarkan rekaman ulama atau qari yang fasih, ikuti perlahan, rekam suaramu, lalu bandingkan. Perhatikan juga tanda panjang vokal: alif = 'aa', waw = 'uu', ya = 'ii'. Untuk berhenti dan menarik napas, ikuti jeda alami pada melodi agar makhraj (tempat keluarnya huruf) tetap benar.
Di samping teknis, jangan lupa makna tiap baris; mengerti kata-katanya bikin pelafalan lebih penuh penghayatan, bukan sekadar bunyi. Semakin sering diulang dengan niat dan tata suara yang benar, pelafalan 'Az Zahir' akan semakin mantap dan khidmat.