MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI
"Anggap saja ini kado ulang tahunmu yang telat. Maaf aku lupa kemarin. Kita mulai lagi dari awal, ya? Kamu berhenti kerja freelance itu, fokus lagi di rumah. Nanti uang bulanan aku tambah sedikit."
Kinan menatap kotak itu. Anting mutiara. Indah memang. Tapi di matanya, mutiara itu tampak seperti butiran air mata yang membeku. Ia tahu persis trik ini. Love bombing. Aris sedang mencoba membelinya kembali dengan barang mewah agar ia bisa kembali menjajah waktu dan tenaga Kinan.
"Simpan saja antingnya, Ris. Atau kasihkan saja ke Ibu, mungkin beliau butuh buat pamer ke pengajian minggu depan," ujar Kinan tenang, tanpa menyentuh kotak itu sedikit pun.