Pesona Istri Yang Kuabaikan
Kami sudah duduk di bangku panjang dengan dua mangkuk bakmi Jawa yang masih mengepulkan asapnya.
"Ya, mana Abang tahu, Sayang. Mungkin rumahnya dekat sini," jawabku, asal saja yang penting istri senang.
"Bukan Abang yang ngajak janjian?"
"Astaghfirullah, ya bukan, Sayang. Ngapain aku janjian sama Ustadzah itu? Lagian dia baru beberapa hari di pesantren, Abang nggak kenal juga."
Zitni mencibir, tapi sangat menggemaskan ketika ngambek seperti itu.