KEMBALINYA SANG RATU
Di antara benda-benda itu, mereka menulis satu kata dengan arang: Hidup.
Malam turun perlahan, membawa bintang-bintang yang berkilau seperti embun di padang waktu. Di langit Seoul yang bersih, Lintang menatap gugusan bintang yang dahulu menjadi petunjuk bagi pelaut Buton. Ia sadar, langit yang sama itu juga menjadi penuntun bagi penggembala Mongolia, petani Papua, dan penjaga tanah merah Australia. Mereka semua—dengan bahasa, luka, dan impian masing-masing—telah bersatu dalam satu nadi: Madrasah Langit.
Dan dari titik itulah, lahir harapan baru.