Sang Penjaga Pajajaran
Larisa menatap mereka satu per satu,
lalu berkata dengan suara pelan namun penuh makna, “Tidak, Ratih. Kita bukan penonton. Kita bagian dari cerita yang sedang ditulis oleh rasa itu sendiri.”
Tiba-tiba, Nagara berdiri di tengah lingkaran, matanya memancarkan cahaya lembut. Angin berputar pelan di sekitarnya, membawa aroma dupa dan tanah basah.
“Kak Larisa…” katanya dengan suara yang hampir bergetar, “aku bisa melihat sesuatu.”
Larisa mendekat. “Apa yang kau lihat, Nak?”
Nagara menunjuk ke langit. “Orang-orang... bukan di sini, tapi di masa depan. Mereka menatap langit seperti kita sekarang. Tapi langitnya... berbeda.
Hot Chapters