Dipaksa Menjadi Istri Musuhku
“Dia tidak melakukan hal seperti itu. Hanya saja, aku memang tidak suka keluar ke taman sebelum-sebelumnya karena mengira ini adalah sarang musuh. Namun, setelah tahu ada kalian-kalian, aku tidak merasa sendirian lagi.”
Mira tersenyum saat Petra membalas kalimatnya. “Saya tersanjung dengan balasan anda, nona.” Ia kembali meletakan teko teh ke tempatnya dan menyodorkan cangkir berisi teh hangat ke depan Petra. “Ini teh nya, masih teh melati yang sering di buat oleh mendiang yang mulia ratu.”
Petra langsung mengangkat cangkir itu, meniup dan menyeruput nya pelan. “Kau benar, Mira. Memang tidak sama persis, tapi sedikit mengobati rasa rinduku pada ibunda.”