Setelah Dua Belas Tahun Pernikahan
"Tentu tidak Sayang. Mas paham, yang sulit sekali dikontrol manusia adalah hati dan perasaannya. Tidak apa, justru Mas senang kamu mau bercerita. Mulai sekarang kamu maukan berbagi dengan Mas apapun yang kamu rasa? Suka dan duka?"
Aku menarik napas dalam, merasa bersyukur karena Allah memberi suami yang sangat lembut dan begitu pengertian.
"Aku bersedia, Mas."
"Alhamdulillah."
Mas Farhan melerai pelukan lalu mengusap pipiku yang basah akan air mata. Sikapnya begitu menenangkan jiwa, aku merasa damai dalam setiap perlakuan Mas Farhan.
"Ngomong-ngomong kamu mau kita bulan madu kemana? Umroh, Bali, atau ke Jepang?"