DIKIRA MENANTU MISKIN
tanyaku, merasa malu dengan ujarannya barusan.
“Hanza, jangan pernah berbicara seperti itu. Karena ini takdir Allah yang paling indah. Kamu bukan mereka, Hanza. Tidak pernah Abang merasa kecewa telah menikahi wanita sebaik kamu.”
“Bang...”
“Kenapa, Sayang?”
“I love you, Bang!” Aku memeluk erat lelaki tampan berwajah ketimuran itu. Bahagia sekali rasanya dipertemukan dan dipersatukan dengannya dalam ikatan pernikahan yang suci.