KAMAR KEDUA
Ia memandang Sheza dari tempat duduknya.
Bu Pur mengamati Sheza lekat-lekat. Memandang kakinya, lalu tangan, tubuh anaknya, lalu wajahnya. “Meski kehidupan masa lalunya rumit, mantan istrinya mengerikan, setidaknya kamu nggak bego-bego amat milih suami. Pinter karena bisa menilai Satria lebih kaya.” Ia bangkit mendatangi Sheza. “Satria pasti tergila-gila sama kamu. Tapi kamu tetap harus ingat satu hal.”
“Apa?” tanya Sheza. Sebenarnya apa yang dikatakan ibunya tidak masuk begitu saja dalam pikiran dan hatinya. Tapi tetap saja ia mau tahu.