Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan
ujar Violeta datar, tapi setiap katanya seperti racun yang menetes lambat.
“Di mana-mana kau tak pernah lepas dari bau nafsu dan uang. Berapa banyak lagi yang kau jual, ya? Berapa banyak lagi?”
Nada suaranya naik, sinis, melengking halus tapi mematikan. Setiap suku kata seperti cambuk yang menghantam harga diri Ariana.
Ariana menelan ludahnya dengan susah payah. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan menahan diri untuk tidak membalas.